Thursday, June 18, 2009

Ayo semangat!!

Ayo semangat!
Karena matahari tidak menunggu
Tetapi berlari mendapatkan dia yang menjemput

Ayo semangat!
Karena pekerjaan tidak ditunggu
Melainkan dikejar dan diciptakan

Tuesday, May 26, 2009

Jangan Beli Kucing Dalam Karung

Kita tentunya menyaksikan akrobat politik yang berlangsung selama beberapa minggu terakhir khususnya yang berkaitan dengan pencalonan presiden dan wakil presiden untuk masa jabatan 2009-2014. Pada akhirnya bongkar-pasang koalisi tersebut menghasilkan 3 pasang capres dan cawapres. Nah, mana yang kira-kira akan saya pilih?

Hal ini terus terang ngebingungin karena pada dasarnya saya ragu dengan ketiga pasangan tersebut. Tidak ada pasangan yang benar-benar ampuh untuk memimpin negeri ini. Namun daripada memilih kucing dalam karung, ada baiknya kita secara tekun memeriksa track record dan juga program ketiga pasangan tersebut dalam masa kampanye nanti.

Meski hati ini pesimis, pilihan tetap harus dicontreng pada tanggal 8 Juli nanti. Pilihan tersebut adalah yang terbaik di antara yang terburuk.

Friday, April 17, 2009

pasca contreng

segala keriuhan pemilu sudah berlalu, tinggal carut-marut penghitungan suara yang masih melanda.

Bekasi, 9 April 2009
Saya melangkah gontai ke TPS 84 di dekat rumah saya pada jam 11 siang. Sengaja saya memilih berangkat siangan karena pikiran saya jumlah pemilih bakal membludak di pagi hari jadi siangnya agak kosong. Tapi saya salah duga ternyata. Banyak pemilih yang masih antri di TPS. Banyak juga yang pintar memanfaatkan kondisi dengan cara mendaftar di TPS lalu pulang lagi ke rumah. Ketika mereka balik lagi ke TPS siangnya, nomor antrian mereka sudah lewat, namun mereka bisa langsung masuk ke bilik suara. Curang kan?! Hehehe.

Saya sendiri memilih menunggu di TPS sambil melihat-lihat calon legislatif yang fotonya dipasang. Di sinilah adegan lucu dimulai. Seorang tetangga saya yang merupakan caleg dari sebuah partai kecil datang menghampiri dan mengajak ngobrol. Dan pembicaraan pun pelan-pelan dikembangkan ke arah pencontrengan dirinya sebagai anggota DPRD Kota Bekasi. Hehehe, saya sebenarnya sudah menduga arah pembicaraannya bakal ke situ. Bagi saya itu merupakan cara yang cukup simpatik dan megena ke pemilih. Saya berjanji akan mempertimbangkan usulannya.

Terus terang saya bingung dengan para caleg ini. Mereka mempromosikan dirinya semata-mata lewat poster yang bergantungan di mana-mana tanpa ada kejelasan program yang mereka berikan. Akhirnya saya memandang mereka semua sama saja. Saya lalu menyeleksi berdasarkan partai terlebih dahulu, karena anggapan saya kebijakan seorang anggota legislatif sangat bergantung pada kebijakan partainya. Sedangkan calegnya? Saya pilih berdasarkan foto!! Iya, pilih yang ganteng dan cantik aja. Toh gak akan berpengaruh banyak bukan?!

Demikianlah saya mencontreng sebuah partai menengah untuk DPR, dan partai kecil untuk DPRD provinsi dan kota. Saya tau pilihan saya tidak akan menang, namun paling tidak suara saya tetap tercatat dan mendukung kesinambungan reformasi politik Indonesia.

Terus, caleg tetangga saya tadi gimana? Maaf Pa'E, sampeyan ndak saya contreng. Semoga sampeyan ndak baca blog ini ya. Hehehehe. Merdeka!!!

Wednesday, April 1, 2009

Asal Bukan SBY

Tulisan saya terus terang berbau politis.

Tanpa bermaksud mendiskreditkan atau tidak menghormati pihak tertentu, pada kali ini saya ingin menyatakan kecenderungan pilihan politik saya pribadi. Saya tentu menghargai prinsip LUBER dalam pemilu, namun saya berpendapat bahwa pilihan politik juga dapat disuarakan dengan lantang. Buktinya mereka yang berkampanye di jalan-jalan sudah jelas menyatakan siapa yang mereka dukung kok.

Untuk saya pribadi, sampai hari ini saya belum menentukan pilihan saya, namun satu yang pasti, saya tidak akan memilih Partai Demokrat sebagai pilihan legislatif, dan tidak pula SBY sebagai presiden.

Secara pribadi saya hormat pada beliau; tutur kata yang santun mencerminkan karakter yang kuat namun lembut. Namun di mata saya SBY tidak tegas membela kepentingan rakyat dan masih mementingkan tenggang rasa dan hubungan baik dengan negara-negara lain. Contoh paling nyata adalah kasus larinya koruptor ke Singapura, David Hartanto, penyiksaan TKI di luar negeri, dsb. Pemerintahan SBY tidak berani mengambil langkah tegas terhadap negara lain yang telah mempermainkan kedaulatan dan juga warga kita. Menurut saya hal itu sangat memalukan.

Saya pikir Indonesia perlu pemimpin yang lebih tegas daripada SBY. Saya masih menunggu siapa orangnya.

Sunday, March 22, 2009

Dagelan Caleg

Genderang kampanye terbuka Pemilu 2009 sudah digelar sejak 16 Maret lalu. Jadual kampanye yang kacau itu mulai berjalan dan kita mulai menyaksikan pemandangan 'normal' setiap menjelang pemilu: konvoi di jalan, yel-yel partai, orasi jurkam, hiburan rakyat, dll.

Saya seperti biasanya kurang ambil pusing dengan orasi para juru kampanye tersebut karena menurut saya mereka hanya menyanyikan lagu lama. Dan benar saja, dari sekian cuplikan kampanye yang saya saksikan di televisi, jargon mereka ya itu-itu juga: Sembako murah, BBM murah, pendidikan gratis, sekolah gratis...

Semua tahu itu hanya omong-kosong belaka. Dan memang bukan sepenuhnya salah si caleg sih. Ada variabel lain yang tidak memungkinkan ongkos angkot turun misalnya, sehingga penurunan harga BBM tidak berpengaruh banyak pada masyarakat. Lalu bicara soal sekolah gratis, saya berpikir hal itu sebenarnya kurang tepat. Justru saya lebih terkesan pada ucapan seorang caleg dari partai kecil yang berkata pendidikan harus terjangkau; tidak gratis, tetapi terjangkau. Mengapa demikian? Saya percaya bahwa pendidikan memerlukan uang. Walaupun uang sekolah seorang anak hanya Rp 1,000 per semester, pendidikan itu tetap harus ada harganya. Pendidikan yang ada harganya itu justru akan mengajarkan semua keluarga Indonesia untuk memiliki kesadaran bahwa pendidikan adalah investasi yang memerlukan pengorbanan keluarga, dan agar anak tersebut juga belajar menghargai jerih payah orang tuanya untuk mengantarnya ke bangku sekolah.

Eh kok jadi ngelantur? Fokus saya masih pada janji-janji para caleg yang tak ubahnya dagelan politik. Bayangkan saja, ada 2 acara keluarga dan gereja yang diadakan di rumah kami dalam sebulan terakhir, dan minuman air mineral kemasan selalu disumbang oleh seorang caleg yang memasang stiker gambar dirinya di tutup gelas. Lalu jalanan rumah kami disemprot anti demam berdarah sambil dibagikan stiker caleg yang menjadi sponsor kegiatan tersebut. Nanti setelah terpilih, kita-kita masih diingat gak ya?

Tunggu 9 April. Saya yang akan bersuara nanti.